rumah-amani

we learn and we share

Menu Close

Resign , inilah akhirnya pilihan saya

“Tiada yang bisa menjamin rejeki kita, bahkan sekiranyapun saya masih bekerja. Tapi Allah, Dia yang menjaminnya dengan menetapkan kadarnya sesuai kemampuan, upaya dan kebutuhan hambaNya”

Ada yang bertanya atau  mungkin menduga duga… tentang mengapa saya akhirnya memilih resign dari sebuah perusahaan terbesar ke 7 di dunia (ehmm) setelah 19 tahun. Walaupun hanya sebagai senior staff, namun hasilannya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil saya, bahkan bisa membanggakan keluarga besar saya 🙂

Jangankan teman-teman dan orang-orang terdekat, saya pun sempat “tidak percaya”  dengan keputusan yang harus saya ambil saat itu. Bagi saya, keputusan  resign saat itu , sama saja  dengan siap kehilangan penghasilan tetap beserta bonus bonusnya. Sama saja dengan tidak lagi bisa menyisihkan tabungan untuk anak-anak. Sama saja saya tidak lagi mudah mengirim uang ke keluarga keluarga saya. Terbayang tidak lagi bisa ikut qurban seperti Idul Adha seperti tahun sebelumnya , tak lagi bisa zakat mal. Aaahhh, sama saja dengan tidak lagi ada kegiatan rutin yang membuat saya bisa pergi ke sana sini sebagai bagian dari tugas… Tidak ada lagi mailbox full sangking banyaknya reminder dan tugas via email. Tidak ada lagi SMS alert yang rutin saya cek untuk memastikan keadaan di kantor baik baik saja saat diluar jam kerja… dst

Sempat yang terbayang saat itu…adalah …saya mungkin akan “bingung dan bengong” dengan tidak adanya seabrek kegiatan itu semua.

SK mutasi itu benar benar merubah hidup saya dalam waktu yang sangat singkat. Saat SK itu kami baca (saya tidak membukanya, melainkan saya serahkan ke Suami untuk membuka amplopnya dan membacaya, karena saya sudah bisa menduga isinya), air muka kami sama sama tidak bisa ditutupi karena rasa sedih.

Beruntung saat SK itu dibaca suami saya, kami sedang berada di Starbucks bersama anak-anak. Dengan tenang kami sampaikan tentang pindah tugas tersebut kepada mereka. Dan bisa di tebak, anak-anak tidak setuju. Yang satu menolak karena baru saja (pada hari yang sama) menerima pengumuman kelulusan dari SD-nya dan sudah diterima di SMP impiannya, yang satu lagi tidak mau ikut karena tidak mau berpisah dengan teman-temannya dan segala yang ada di rumah sederhana kami. Lalu saya sendiri? Masak iya bisa memenuhi perintah mutasi dari perusahaan, dengan meninggalkan 2 makhluk tercinta, titipan Yang Di Atas, yang sebelumnya sudah pernah saya tinggalkan hampir 2 tahun lamanya?

Tiba-tiba terkenang 3 tahun sebelumnya saat saya di pindahtugaskan ke Sulawesi, hidup saya mulai terasa berantakan. Jauh dari anak dan suami, adalah siksaan yang luar biasa. Mengisi waktu dengan banyak kesibukan untuk membunuh rasa rindu dan terutama rasa bersalah.

Tak ada yang tau rasanya saat itu. Mungkin kamar mandi bisa jadi salah satu saksi, betapa saya sering mengguyur kepala saya berlama-lama untuk meredam tangis yang sering pecah. Yaaaa.. di kamar mandi agar tidak satupun orang yang mendengarnya. Saat itu saya sebenarnya  sadar, bukan hanya saya yang merasakan situasi yang tak enak, suamipun juga menjadi begitu sensitif dan pasti sangat lelah mengurus urusan yang saya tinggalkan di rumah, selama 24 jam, setiap senin subuh – jumat malam, selama hampir 2 tahun lamanya.

Anak anak jadi sering bengong dan rewel, terutama si sulung, menjadi sulit sekali diajak komunikasi. Dia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Sedangkan si bungsu, menjadi begitu berusaha menunjukkan bahwa semua baik baik saja….sehingga dimata saya dia menjadi terlalu cepat dewasa. Kala itu, bertahan di situasi itu demi sesuatu yang kata saya “mengumpulkan tabungan untuk masa depan anak-anak dan agar orang tua saya selalu bahagia dan bangga atas jerihpayahnya selama ini membesarkan saya”. Hanya doa dan beberapa upaya termasuk lobi lobi, saya coba lakukan setiap kali ada kesempatan. Alhamdulillah, akhirya  setelah hampir 2 thn, harapan kami terjawab. Saya pindah, balik ke Surabaya. Nikmatnya jangan ditanya. Apalagi jarak kantor yang tak seberapa jauh dari rumah dan sekolah anak anak. Semua begitu terasa mudah diatur. Apalagi ada fasilitas mobil dari  kantor yang sangat membantu mobilitas saya mengurus ini dan itu. Hingga akhirnya hari itu, minggu ke II Juni 2015 , Allah yang maha penyayang, menghadiahi saya SK mutasi lagi.

Dan… Inilah saya…

Saya yang seperti stuck, tak lagi kuasa memilih itu sebagai pilihan terbaik. Setelah sebelumnya, saya mengabaikan tawaran pensiun dini karena saya masih begitu cinta pada profesi saya dengan niatan bekerja “demi” membantu keluarga. Saya yg tidak menyadari tumbuhnya bibit kesombongan,  dengan merasa  sudah sangat pandai memanage antara pekerjaan dan keluarga karena melihat keadaan rumahtangga dan anak anak sangat baik baik saja (karena prestasi mereka masih cemerlang, mereka masih sehat, mereka taat ibadahnya, mereka anak-anak yang penurut dst) ……Saya yang percaya diri merasa mampu  memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja kantoran. Saya yang merasa lebih baik menjadi ibu bekerja daripada menjadi ibu rumah tangga. Demikianlah ketika Allah menghendaki sesuatu, maka tak ada yang dapat memintanya lebih awal dan tak pula ada yang mampu menolak/menundanya.

Ya Rabb….Subhanallah, maafkan hamba. Inilah bentuk cintaMu kepadaku dan kepada keluargaku.

Demikianlah kejadian itu telah berlalu. Kini tinggallah saya tersenyum bahagia atas keputusan saya untuk resign. Bahagia karena ternyata situasinya kini tercipta menjadi  lebih baik, nahkan jauuuh lebih baik.

Dalam hitungan hari saya mendapati anak sulung saya yang selama bertahun tahun sangat pendiam dan sulit diajak komunikasi, menjadi anak yang bisa banyak bicara, dia menjadi suka bercerita dan super kepo, sangat ceria dan ternyata bisa sangat mandiri. Kami sampai tak percaya atas perubahannya yang begitu drastis. Adiknya sampai berkata “Bunda, kakak sekarang suka heboh dan sayang sama aku. Dulu ndak mau ngomong sama aku, bisanya cuma gangguin sampai bikin aku nangis. Sekarang dikit dikit suka nolongin aku”. Si Adik pun, yang tadinya sangat sensi, berubah menjadi anak yang lebih tenang dan jadi lebih periang. Tak lepas celoteh panjang kali lebar dari mulut mungilnya, mulai bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Semakin banyak saja kreasinya jika sudah pulang dari sekolah, dan baru berhenti jika sudah mengantuk. Suami?  yaaa..beliau juga menjadi lebih tenang karena anak-anak nya sudah ada ditangan pengasuh yang seharusnya. Bahkan beliau menjadi lebih sayang. Sesekali entah dia sengaja atau tidak,  kudengar dia memanggilku “sayang”, bukan bunda…hahaha..upssss.         Dan saya?…saya yg dulu mudah emosi jika melihat ada hal-hal yang gak beres, sekarang lebih woles 🙂 Tak ada lagi suara yang naik 1 oktaf saat anak-anak sedikit membandel. Yang ada adalah perasaan yang lebih tenang dan lebih banyak bersenang-senang dengan anak anak dan suami. MasyaAllah.

Dan di 9 Agustus ini  sayapun tertegun dengan hati yang penuh syukur.

Setelah kejadian SK mutasi pertengahan Juni yang lalu dan saya memutuskan #resign, semuanya ternyata sangat baik baik saja. Tidak ada kebengongan yang saya khawatirkan saat saya tak lagi di depan komputer di meja kerja kantor , dari jam 8.00-17.00. Ketakutan dan keragu raguan yang sempat menghampiri, bisa  berubah begitu cepat …menjadi rasa tentram dan lebih mudah merasa bahagia….

Kini kegiatan saya..

Bangun setiap hari lebih awal utk menyiapkan segala sesuatunya  di pagi hari tanpa  kelabakan 🙂 Bahkan bisa menyiapkan bekal yang di request anak-anak semalam sebelumnya.

Mendapat kesempatan indah melepas anak anak berangkat sekolah dengan pelukan hangat dan  penuh doa lalu  menyambut mereka lagi saat mereka pulang. Lebih sering hadir dengan telinga dan hati yang lapang untuk mendengarkan kisah kisah seru mereka di sekolah, tanpa dihantui perasaan was-was adanya “alert dan panggilan” dari kantor.

Lalu bagaimana saya mengisi “waktu jeda”? Wah ini seru. InsyaAllah akan saya tulis di edisi berikutnya. Yang pasti kini saya mencoba mengisi  waktu pagi hingga sore dengan hobi yang Alhamdulillah ternyata sangat menyenangkan dan insyaAllah kelak bisa “menghasilkan”. Mengikuti beberapa seminar enterpreneurship setiap pekan, belajar ini-itu, dan lebih ada waktu untuk kontak orang tua, keluarga dan teman teman, banyak kesempatan beribadah dst. Full of activities, kadang malah kurang 24 jam itu, terutama karena saya rindu sekali ingin punya waktu untuk olahraga. Waktunya sekarang lebih banyak habis untuk bikin tester cokelat soalnya.. hahaha.

Lalu uang bulanan selanjutnya, akankah cukup?

Untuk pertanyaan ini, jawabnya, inysaAllah Cukup 🙂

Tiada yang bisa menjamin rejeki kita, bahkan sekiranyapun saya masih bekerja. Tapi Allah, Dia yang menjaminnya dengan menetapkan kadarnya sesuai kemampuan, upaya dan kebutuhan hambaNya.

Kini tugas saya tinggal berusaha melakukan tanggungjawab sebagai istri dan ibu dengan sebaik baiknya, lalu sabar dan berserah diri.

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ 

Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasakan) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar “

(S Al-Baqarah, ayat 155).

وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Allah-lah yang menyempit dan yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNya kamu dikembalikan”

(Surah al-Baqarah, ayat 245)

Dan dalam surat at Thalaq : 2-3

yang dikenal dengan ayat 1000 dinar, Allah pun berfirman yang artinya :

Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberi rezeki kepadanya tanpa diduga, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkannya. Sesungguhnya Allah melaksana urusan yang dikehendakiNya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu” (Surah At-Thalaq: 2 -3)  

Demikianlah… tak ada keraguan dengan keputusan resign ini. ditutupNya satu pintu rejeki, sangat berarti akan digantikanNya dengan rejeki dari pintu yang lain. Ingat bagaimana Allah mengatur rejeki kita sejak dalam kandungan? yang tadinya kita diberi rejeki melalui tali pusar untuk jalan “makanan” kita, lalu setelah kita lahir diputus tali pusar itu yang lalu digantiNya dengan dua sumber ASI selama 24 bulan. Kemudian selepas itu digantiNya lagi dengan makanan dari alam, begitu seterusnya, tak akan pernah putus jalan rejekiNya untuk hambaNya.

Maka cukuplah kita yakini bahwa tiada kejadian yang kebetulan, melainkan sudah diaturNya dengan sebaik baiknya  untuk kebaikan hambaNya. Tinggal kita jalani dengan syukur dan sabar/ikhlas.

…………….Subhanallah, Walhamdulillah, Wallahu Akbar………………………

FacebookTwitterGoogle+

© 2017 rumah-amani. All rights reserved.

we learn and we share

↓