rumah-amani

we learn and we share

Menu Close

Jangan takut Resign

Kenalkan…saya Whesty..

Owner Rumah-amani.com dan TLC

Dengan senang hati saya sampaikan bahwa sekarang saya adalah Ibu Rumah tangga yang happy dengan kegiatan sederhana : mengurus keluarga dan sedikit kegiatan extra asik di rumah 🙂

Pasti para bunda bekerja, pernah berfikir seperti saya….seenggaknya kemungkinan besar pernah berfikir seperti di bawah ini 😉

Bahwa seandainya nanti saya berhenti bekerja (baca : pegawai kantoran), pasti saya akan kehilangan pendapatan rutin saya, kehilangan kesempatan berkembang, kehilangan karir, kehilangan teman teman dekat, kehilangan kesempatan untuk update informasi, kehilangan kesempatan gaul, gak update teknologi lagi, kehilangan banyak me-time, kehilangan kesempatan bepergian melanglang buana ke seantero Indonesia secara gratisan (dapat uang saku malahan) atau bahkan ke luar negeri, hilang pula   plafon berobat gratisan saat sakit, kehilangan fasilitas dari kantor : seperti mobil, fasilitas tlp gratis, dan kesempatan-kesempatan “indah dan happy” lainnya dst.

Belum lagi munculnya bayangan “tak nyaman” tentang situasi baru jika sudah di rumah nanti… : pasti akan sepi tanpa teman-teman yang menyapa dan ngajak ngobrol seru pagi-pagi, gak ada teman makan siang rame-rame, gak ada acara shopping bareng….apalagi saat anak anak masuk sekolah dan pulang sore. Adapun  yang ada adalah “rempong” yang kuat membayangi… Kudu siap bangun lebih awal saat yang lain masih pada tidur, menyiapkan segala keperluan anak-anak sekolah, mengantar dan menjemput anak-anak, ngelakoni kerjaan nyapu-nyuci-nyetrika, berteman dengan  teman arisan RT dan PKK, perginya dengan ibu-ibu pengajian, ngobrolnya dengan tetangga yang dasteran, Aaakhhh…belum lagi saban pagi dan malam kudu bersihin kandang kucing (kalo ada 🙂 ), masak 3x sehari, beresin dapur bekas masakan dan makanan, huaaaaahhhh, banyaaakkk banget dan tentunya bikin sumpek dan ……down…

Apalagi jika kita tak punya bekal skill apa apa…

Bisa dibayangkan seramnya memikirkan, mau ngapain kita di rumah supaya bisa tetap eksis alias tetap menghasilkan uang, minimal tidak tergantung semata-mata pada pemberian suami, atau pegangan untuk sekedar jaga-jaga, kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diharapkan…

 

Namun…

Terjadikah semua pikiran dan rasa khawatir itu?

Alhamdulillah, masyaAllah…tidak ada terjadi sedikitpun hal “menyeramkan” itu, khususnya pada diri saya…dan pun saya yakin , insyaAllah tidak terjadi pula pada diri ibu-ibu lainnya yang mengambil keputusan yang sama atas dasar ketaatan dan keikhlasan.

Pertanyaannya…kok bisa begitu? Apakah karena saya sudah punya kepiawaian tertentu sehingga bisa mengurus urusan rumahtangga plus bisa menghasilkan kreasi yang menghasilkan uang ?

Jawab : Tidak. Saya merasa tidak punya keahlian apa apa. Sedangkan memasak nasi saja saya kalah sama Bapak saya…kalau saya yg masak, nasinya kadang keras kadang lembek, jarang bisa pas, apalagi bisa konsisten pasnya. Apatah lagi soal lauk pauk, jangan ditanya, model dan rasanya. Hanya suami saya saja yang bilang masakah saya enak (alhamdulillah dia sangat pandai menyenangkan hati istrinya…:) barokallah semoga Allah memanjangkan umurnya dengan umur yang barokah dan melapangkan rejekinya dengan rejeki yang luas halal dan barokah dan semakin salih dalam menjadi imam bagi kami sekeluarga.

 

Jadi apa penyebabnya?

Ya..sungguh……….. kadarullah, Semua semata mata karena Allah. Allah ya Kariim yang memperjalan semuanya…. Ia yang sesiapapun mahkluknya tau bahwa sebagai sang Maha Pencipta, Sang Raja, Sang Maha Kaya, Ia lah yang memungkinkan apapun terjadi, bahkan menjadikan kepada kita sesuatu yang jauh dari nalar dan kemampuan hambaNya sebelumnya.

Begitu pun yang dikehendakiNya terjadi pada saya…yang kini sedikit sedikit bisa membuat olahan cokelat sederhana dengan packaging yang konon katanya lucu dan menggemaskan. Hal yang membuat banyak orang terheran-heran (bahkan orang tua dan saudara-saudara saya sendiri). Mereka sampai bertanya kepada saya, kok bisa kamu bikin cokelat?…kok jadi pinter kamu sekarang?…emang kapan kursusnya? kursus/belajar dimana kamu?…sebelumnya emang jago masak?…. dan seterusnya….. banyaak lagi pertanyaan seputar itu..baik dari kawan dekat di ex kantor, maupun dari sahabat medsos yang exciting dengan gambar gambar cokelat yg terposting di medsos saya.

Allah ya Malik…la hawla wala kuwwata illa billah…

Saya jadi teringat seorang teman vendor saya di kantor dulu, ketika kami bertemu dalam sebuah negosiasi pengadan souvenir. Saya liat dia memiliki personality yang tangguh, sabar, ulet dan yang pasti cool banged. Dan dia adalah seorang lulusan sarjana kesehatan alias dokter muda. Cantik, seksi, tinggi dan penampilannya sangat chic. Dia bilang ke saya waktu saya tanya, kenapa milih kerja ginian…kenapa gak diterusin aja profesi dokternya. Dan jawabannya diluar dugaan saya…”Mbak Whest..paling enak itu kalau punya pekerjaan dari hobby, yang saat ditekuni bisa menghasilkan (uang). Itu akan sangat menyenangkan karena kita gak akan merasa capek ngerjainnya..dan yang pasti di rumah bisa lebih banyak waktu buat keluarga”. Saya ya bilang waktu itu.. “iya lah Mbak, mbak kan punya hobbi dari bakat kreatif gini…jadi wajar apa aja bisa jadi uang.” Dan dia bilang , “Akhh, itu kan hanya masalah kita mau mencoba atau tidak!” itu kejadian sekitar 10 atau 11 tahun yang lalu 🙂

Di kesempatan lain, saat jalan bareng sama teman-teman kantor ke salah satu mall, saat beberapa kawan masuk belanja di sebuah gerai kecantikan….saya memilih menunggu diluar bersama seorang teman. Dia mantan pramugara Garuda. Tapi jangan tanya penampilannya saat itu, dia sdh memelihara janggut dan meninggikan celana panjangnya yg notabene dimasa itu masih jarang sekali kawan yang berani berpenampilan seperti itu ke kantor…. Dia bilang gini, “Mbak, kenapa kamu ndak berhenti kerja aja dan mengurus keluarga. Toh suamimu kerja kan?!” Saya yg waktu itu tidak tau banyak ilmu ttg keutamaan/kemuliaan profesi Ibu Rumah Tangga, langsung membela diri dengan berbagai alasan berdasarkan logika-logika, mulai dari tuntutan ekonomi keluarga, keinginan membanggakan orang tua, membantu suami menabung untuk masa depan anak-anak yg sekolahnya makin tahun makin muwahal dll”…. Dia senyum-senyum dong, dannnn cuma bilang “Berarti kamu gak yakin sama yang ngasih rejeki, Mbak. Tugas istri itu yang paling utama dan lebih mulia itu di rumah. Allah atur begitu supaya perempuan lebih terlindung dari maksiat, terjaga kehormatannya dan keluarganya dan yang pasti rejekinya akan mengalir dari suamimu dan dari banyak pintu rezeki lainnya”. Saya cuma manggut-manggut waktu itu dan   minta doanya …. kemudian hilanglah petuah itu beberapa waktu berikutnya. Subhanallah…Astagfirullah.

Banyak lagi kawan-kawan salih dan kreatif yang sebenarnya Allah kirimkan ke saya, tanpa saya sadari. Beberapa kejadian yang menyedihkan dan melelahkan bahkan Allah hadirkan agar saya segera mengambil keputusan  kembali ke fitrah saya sebagai IRT; seperti penugasan ke luar pulau sehingga saya harus berpisah sangat lama dan jauh dari keluarga. Hingga akhirnya Allah betul-betul mengetuk sekali lagi pintu hati saya melalui Surat Tugas Luar Kota yang dikesempatan itu anak-anak kekeuh tidak ingin ikut saya dan suami saya pun akhirnya meminta saya Resign. Ya Allah…rasanya waktu itu..nano nano…kebayang 19 tahun berkarya di kantor dan harus resign tanpa kompensasi yg cukup sebagai modal nantinya (versi saya :))…dan saya pun berusaha pasrah dan  legawa menerima hasil diskusi keluargaku. Satu hal yang saya yakini saat itu…bahwa ini pasti kehendak terbaikNya.. jadi jalani saja !!

Dan disitulah semua berawal…sebuah gerbang besar berpintu raksasa seolah dibukakanNya. MasyaAllah, ada support yang luar biasa dari keluarga yang tadinya cukup kecewa dan sedih dengan Resign saya. Tetiba semuanya berbalik mendukung dan mendoakan untuk langkah apapun yang akan saya lakukan dari rumah.

Dan diiringi support luar biasa itulah lahir Crown Chocolate yang kemudian bermetamorfosa menjadi Three Little Chocolates (TLC). Dan mulailah keluar ide-ide membuat cokelat isian almond, raisin dll di awal (setelah tertular ide kreatif dari teman teman yg sudah punya usaha cokelat rumahan sebelumnya)..lalu saya mulai belajar food photography, belajar bikin postingan yang menarik, mulai ngembangin varian TLC, bikin packaging yg unik dan orisinil dengan memanfaatkan bahan daur ulang dll,

Saat ini,  cokelat buatan TLC mungkin belum se-istimewa yg sudah nge brand… namun itu jadi motivasi saya untuk keep improve to create the new one and give more value. Dan value yang utama dari semuanya adalah selalu berusaha melibatkan Allah dalam setiap hal, mulai dari membeli bahan terbaik, halal dan sehat, meprosesnya dengan baik dan benar, memberikannya  sentuhan akhir yang maksimal semampu saya yang insyaAllah tak luput dari banyaknya doa dan harapan di setiap tahapnya. Tak lupa saya belajar  mendesain model bisnis sederhana yang bisa saling memberikan keuntungan antara TLC dengan pelanggan dan mitra-mitra.

Demikianlah..

Apa kata orang salih itu benar adanya……

Cukuplah kau taat, maka Allah akan mencukupimu..

Ya…mama, ibu, bunda, mommy, ummi……………………………………. tidak ada yg kurang setalah saya di rumah. Yg ada adalah kecukupan yang luar biasa. Dan lebih utama dari itu semua adalah : saya bisa lebih banyak memberi perhatian dan doa untuk mendukung suami dan anak anak serta keluarga besar, dan bonusnya adalah saya tetap bisa eksis, bisa tetap membantu ekonomi keluarga melalui “karunia  mukjizat” kreatifitas dariNya.

Jadi jangan takut jika resign demi alasan keluarga….jangan ditawar, karena itu memang sudah fitrah kita :).. Apalagi jika ada keluarga (anak)  yg butuh perhatian khusus. Dengan pulang ke rumah, InsyaAllah rejeki kita tidak akan berkurang, percaya, malah akan lebih besar, bukan karena nilainya semata, tetapi karena suami dan anak-anak menjadi lebih terurus, sehat, damai, bahagia dan insyaAllah makin salih salihah dan taqwa…

Bukankah itu kebahagiaan dan kekayaan yang sesungguhnya yang tidak ternilai dengan karir, fasilitas kantor, gaji dan seterusnya?

Sebelum tiba di penghujung, tengoklah betapa indahnya tuntunan dan sungguh nyata cinta dan janji-Nya untuk kita…

 “Barang siapa bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan (keperluannya) .”- Surah at-Thalaq : ayat 3

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”- Surah Saba’ : ayat 39

“Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, nescaya Aku tambahi nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat keras.” – Surah Ibrahim : ayat 7

“Tetapi mereka telah mendustakan ( tidak patuh kepada hukum Islam), maka kami rampas dari mereka apa-apa yang telah mereka usahakan.” – Surah Al-A’raf : ayat 96

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang bertakwa.” – Surah Thahaa : ayat 132

“(Nabi Hud berkata: wahai kaumku, mohon ampun kepada tuhanmu dan bertaubatlah kepadaNya, nescaya ia akan menghantar kepada kamu air hujan yang lebat dan menambahkan kekuatan kamu, dan jangan kamu kembali menjadi orang-orang yang berdosa.” – Surah Huud : ayat 52

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (bakhil); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan kurnia. Dan Allah Maha Luas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui.” Surah Al Baqarah : ayat 268

 

Kini, selamat berniat menjadi Ibu Rumah Tangga 🙂 Bismillah.

‘N Then, welcome to D Club, soon 🙂 InsyaAllah

FacebookTwitterGoogle+

© 2017 rumah-amani. All rights reserved.

we learn and we share

↓