Wajahnya tertunduk layu.

Antara tatapan kosong dan lelah menghadapi 2 masalah di akhir minggu ini. Pertama tentang pe er Science nya tidak kunjung selesai karena banyak dan sulit, yang kedua, galau akibat tas berisi sepasang sepatu badminton kesayangannya plus baju olahraganya terjatuh dijalan saat pulang latihan jumat kemaren.

Andai mau…sebagai ibu…saya mungkin akan  berkata, “Kakak, makanya jangan main mulu..kenapa gak dari kemaren peernya dicicil. Mungkin kakak juga kurang merhatiin kalo gurunya ngajar……masak sampai gak bisa nyelesaiin tugas kayak gini.”  Dan  soal tas olahraganya yang hilang   “Kok bisa jatuh dari motor? Emang gimana narohnya? Tadi udah dicari lagi belum, di jalan?”.

Dan entah kenapa…lidah dan bahasa tubuh ini  bersikap berbeda dari sehari hari saya yang dulu. Yang terucap malah kebalikan. Bahkan mungkin cenderung kurang tegas.

“Ndak papa nak kalau ndak bisa. Mungkin memang pelajarannya yang sulit. Besok coba tanya sama temannya yang lebih  tau atau langsung tanya ke guru science nya. Dan kali ini bonus deh…kakak nilainya boleh sedapatnya. Jelek ya nggak papa. Sekali kali ngerasaan bonus nilai jelek gak papa kan ya?” ucapanku mengalir begitu saja. Saya melihat perlahan Air mukanya mulai membening…tidak sekeruh tadi. Dia lalu meraih gitar dan memainkannya sembarangan. Mungkin dia mencoba mengusir sisa penatnya. Dan soal tasnya yang jatuh, emmaknya ini cuma bilang agar ia tetap ikut olahraga dan ijin menggunakan pakaian olahraga seadanya dari rumah, walau dia bilang gak akan dibolehin ikut kalau tidak pakai seragam olahraga sekolah.  Emmaknya cuma meyakinkan bahwa dia hanya perlu beritikad baik mengikuti kegiatan, tidak perlu menghindar.

Paginya…berat hati ini melepas ia berangkat tanpa senyum manis seperti biasanya. Tapi saya  percaya….dalam restu seorang ibu ada  kekuatan untuk anak anaknya….apalagi di hari senin begini 😊

Ibu saya yang hari itu sedang ada di rumah,  ternyata memperhatikan. Beliau tersenyum dan berkata…”Untung anak anakmu kamu urus sendiri, nak. Gimana kalau kamu kerja dan kamu minta ibu yang menemaninya…”

Dan benarlah…sore ini si sulung pulang sekolah sambil mencari dan memanggil manggil emmaknya . Kulihat ia masuk rumah penuh peluh beraroma khas remaja tanggung…

Wajahnya berbinar walau saya tau dia habis dimarahin oleh guru sciencenya.

 

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

“Sebuah teko kehidupan”

Tekonya saya beli sekitar 10 thn yang lalu. Tiap subuh diisi untuk menjerangkan air mandi untuk   kedua bocah dirumah. Sejak awal membelinya sdh tidak berfungsi maksimal karena katup uapnya tidak pernah bisa berbunyi saat airnya mendidih, sehingga harus selalu di awasi…agar saat mendidih airnya tidak tumpah dan api kompornya bisa segera dimatikan.

Terkadang begitulah saya melihat anak anak,  menerimanya apa adanya, tidak pernah menuntutnya berprestasi apalagi menjadi bintang nan sempurna….

Dalam keterbatasan…saya hanya berusaha mengawasi dan memenuhi kebutuhannya. Semampu saya…semampu mereka…

FacebookTwitterGoogle+